✨✌ Berita Seputar NKRI Mengulas Semua Berita Dengan Lugas, Akurat dan Terupdate��✨

Gerindra Dan PKS Hanya Nampak Seperti Koalisi , Kenyataan nya Seperti Minyak dan AIR



Berita Seputar NKRI - Banyak yang mengira kalau PKS dan Gerindra adalah dua partai yang saling bersahabat, seperti persahabatan Kim Jong Un dan Dennis Rodman yang sangat terkenal itu. PKS dan Gerindra terlihat sering bersama, sering sepaham dan mendukunga capres yang sama.

Bahkan sejak Pilpres 2014 yang lalu PKS dan Gerindra sudah mendukung capres yang sama yakni Prabowo. Hanya saja, saat itu nasib baik belum berpihak kepada kedua partai oposisi tersebut. Prabowo kalah oleh sang mantan gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Kekalahan Prabowo di Pilpres 2014 tidak serta merta membuat PKS menjauh dari Gerindra, seperti Golkar, Perindo, PPP dan PAN yang pindah haluan mendukung Jokowi.

Soal kesetiaan yang tampak di permukaan PKS lebih loyal kepada Gerindra dari pada PAN. PAN walaupun mendukung Prabowo dan mantan ketua umumnya, Hatta Radjasa pernah menjadi cawapres Prabowo tapi pernah selingkuh ke istana. Terbukti dengan adanya kader PAN yang jadi menteri di kabinet Jokowi, yakni Asman Abnur sebagai MenPAN RB.

Tapi ternyata kesetiaan PKS kepada Gerindra tersebut bukanlah kesetiaan yang sesungguhnya. PKS seperti artis sinetron yang pandai bermain sandiawara. Ditampilkan di depan, PKS adalah partai yang loyal kepada Prabowo dan Gerindra, tapi di belakangnya PKS ada agenda lain. Atau dalam pribahasanya ada Udang di balik bakwan.

Pertama, PKS berkoalisi dengan Gerindra bertujuan agar kadernya menjadi cawapres Prabowo.

Sebagaimana kita ketahui sulit bagi PKS untuk kadernya menjadi cawapres Jokowi. Sehingga satu-satunya jalan bagi PKS untuk kadernya menjadi cawapres adalah menjadi cawapres Prabowo.


Terhitung saat itu, PKS punya 9 nama capres/cawapres.

Karena capres dari PKS jauh panggang dari pada api untuk terpilih sebagai presiden, maka PKS mengincar posisi cawapres. Dari sembilan nama tersebut mengerucutlah menjadi satu, yakni Salim Segaf Al-Jufri.

Salim Segaf merupakan Ketua Majelis Syuro PKS yang direkomendasikan oleh ijtimak ulama versi GNPF Ulama yang terdiri dari eks HTI, FPI, Alumni 212, PA212, dll.

Begitu ngebetnya PKS ingin kadernya jadi cawapres Prabowo sampai-sampai mantan presiden PKS yang pernah ketahuan follow akun porno, Tifatul Sembiring mengancam Prabowo. Lebih baik PKS dan Gerindra cari jalan masing-masing jika Prabowo tidak memilih kader PKS sebagai cawapresnya. Begitu kura-kura ancaman Tifatul kepada Prabowo.

Hanya saja ancaman Tifatul tersebut diindahkan oleh Prabowo.

Bukan apa-apa. Cawapres PKS tidak ada yang memiliki elektabilitas tinggi. Jadi percuma Prabowo bertarung di Pilpres lagi kalau peluang kalahnya sangat besar.

Dari pada berpasangan dengan kader PKS bertarung di Pilpres 2019, mending Prabowo berpasangan dengan Titiek Soeharto. Setidaknya, jika Prabowo tidak terpilih sebagai presiden, cinta lama bisa bersemi kembali (CLBK). Jadi tidak rugi-rugi amat.

Menurut hemat penulis, akan banyak masyarakat Indonesia yang setuju dan turut berbahagia jika Prabowo dan Titiek rujuk. Karena ini bukan hanya soal Praobowo dan Titiek saja, tapi juga menyangkut Didit Prabowo, anak mereka satu-satunya. Didit pasti malu dengan teman-temannya di Prancis sana, melihat orang tuanya yang tidak akur alias saling bercerai-berai.

Gagal kadernya dipinang sebagai cawapres oleh Prabowo, apakah PKS jera mengusung Prabowo? Ternyata tidak. PKS tetap mendukung Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Tapi lagi-lagi ada udang di balik bakwan. Ternyata di balik dukungan PKS kepada Prabowo tersebut ada uang gede bermain.

Andi Arief, Wasekjen partai Demokrat menyebut PKS mendukung Prabowo karena mendapat mahar 500 miliar dari Sandiaga. Jadi kalau bukan karena uang yang bicara maka belum tentu PKS mendukung Prabowo-Sandiaga. Begitu juga PAN.

Begitu kesalnya Andi Arief dengan Prabowo, karena tidak jadi meminang AHY sebagai cawapres, sampai-sampai ia menyebut Prabowo JENDERAL KARDUS.!!

Yang paling kentara kalau hubungan PKS dan Gerindra seperti Tom and Jerry adalah dalam penentuan siapa yang akan meneggantikan posisi Sandiaga sebagai Wagub DKI Jakarta.

Gerindra merasa paling berhak, karena sebelumnya posisi Wagub tersebut diisi oleh kadernya. PKS juga merasa berhak, karena semua jabatan sudah diborong oleh Gerindra.

Capres dari Gerindra, cawapres dari Gerindra dan ketua Timses dari Gerindra. Dari PKS kok gak ada? Itulah kenapa PKS begitu ngebet ingin dapat jatah kursi Wagub DKI.

Hingga sekarang adegan Tom and Jerry (berebut kursi Wagub DKI) tersebut masih terus berlanjut.


Tidak terbayangkan kalau Prabowo jadi presiden. Kursi Wagub DKI saja mereka saling perebutkan, apalagi kursi yang lebih strategis, seperti menteri, Kapolri, Panglima TNI, Dirut BUMN dan jabatan lainnya.

Belum lagi dibarisan pendukung Prabowo ada eks HTI yang ingin mengganti sistem demokrasi Indonesia menjadi khilafah. Bisa-bisa Indonesia seperti lirik lagu Slank dibuatnya, “kacau balau negaraku ini”.

Mau adegan Tom and Jerry berlanjut hingga ke kancah Nasional?

Jika tidak, #JokowiLagi.

Jaga DKI, Jaga NKRI!
Share on Google Plus

About beritaseputarnkri

You Never Know How Strong You Are Until Being Strong Is The Only Choice You Have "ONLY GOD CAN JUDGE ME".
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment