Tidak Bisa Tutup Mata Pada Kerja Jokowi, Gubernur Baru NTB yang Juga Kader PKS: Saya Ikut Nahdlatul
BeritaSeputarNKRI - Kenyataan selalu lebih kuat dibanding rayuan seperti apa pun. Kata-kata selalu bisa diputarbalikkan dan dimanis-maniskan untuk menyenangkan hati orang lain, tetapi tindakan nyata yang berdampak pada orang lain, tidak bisa dikalahkan oleh kata-kata sehebat apa pun itu.
Mereka yang tinggal di Timur Indonesia, tidak mungkin menafikkan besarnya kepedulian Jokowi kepada mereka. Maka, mau itu perintah partai atau hasutan perintah agama sekalipun, tidak akan mengubah keyakinan mereka untuk patuh pada akal sehat.
Kita ambil Gubernur Papua dan petinggi partai Demokrat di sana, nyaris semuanya sepakat mendukung Jokowi 2 periode meskipun partai mereka sendiri berseberangan sikap. Kenapa? Karena mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri, tetapi memikirkan nasib seluruh rakyat di daerah mereka.
Perhatian besar kepada rakyat dari Indonesia bagian Timur hanya muncul pada masa Jokowi. Pembangunan digalakkan di sana, baik itu yang berubah infrastruktur sampai pariwisata untuk meningkatkan pemasukan daerah. Untuk kesejahteraan, harga BBM pun disesuaikan dengan daerah-daerah lain.
Tidak munkin perhatian yang nyata itu tidak menggerakkan hati siapa pun yang merasakannya. Bayangkan saja, jika selama ini mereka butuh modal yang sangat besar untuk membeli BBM, untuk keperluan melaut, misalnya. Kini hanya mengeluarkan modal yang jauh lebih kecil dan memperluas wilayah mereka untuk memancing/menjaring ikan. Berapa besar kenaikan penghasilan mereka karena hal tersebut?
Kita yang di kota besar saja, kalau bensin naik Rp1000 rupiah, ributnya bisa berhari-hari hingga bisa memunculkan para penimbun yang berebut mencari untung. Lalu bagaimana dengan di Papua? Di mana letak keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tertuang dalam Pancasila sila ke-5?
Semua presiden tahu hal tersebut, tapi mereka tidak bertindak. Mereka tidak mau bertindak karena untuk membantu rakyat di Indonesia Timur, mereka perlu berkorban banyak uang negara untuk membangun ini-itu.
Sementara untuk menang pemilu, mereka cukup fokus saja di tanah Jawa. Jadi, kepemimpinan pun hanya berfokus untuk melanggengkan kekuasaan dan korupsi berjamaah. Sementara sebagian rakyat dibiarkan menderita di pinggiran Indonesia.
Kini, mata mereka terbuka untuk melihat kenyataan yang ada. NTB boleh saja dimenangkan Prabowo pada Pilpres 2014. Hal itu karena TGB yang merupakan gubernur yang dicintai rakyat NTB mendukung Prabowo, dan ditambah dengan Jokowi yang belum “bekerja” untuk rakyat.
Jokowi juga begitu ketika menjabat Walikota Solo, pada periode pertama, ia hanya menang tipis dari lawannya. Tetapi pada periode ke-2, Jokowi menang dengan persentase di atas 90% suara.
Jadi, mereka yang awalnya tidak mendukung Jokowi, beralih mendukung Jokowi pada periode ke-2. Meskipun lawannya bisa saja juga sama bagusnya, tapi mereka tidak mau memilih kucing dalam karung. Jika calon saat ini sudah begitu bagusnya, kenapa harus coba-coba yang lain?
Hal itulah yang juga mempengaruhi keputusan TGB untuk mendukung Jokowi. Jokowi sudah jelas peduli dan membangun Indonesia timur. Jika diganti, apa jaminannya bahwa yang baru pun akan sama pedulinya? Malah, semua yang sudah dibangun bisa saja mangkrak dan malah merugikan negara.
Gubernur NTB yang baru, dengan tegas mengatakan bahwa ia akan mengikuti arahan Nahdlatul Wathan, sama dengan TGB meskipun ia adalah seorang kader dari PKS.
Zulkieflimansyah juga bicara sisi positif Jokowi yang punya perhatian besar terhadap kesetaraan pembangunan di wilayah timur Indonesia.
"Sebagai presiden pun, kalau teman-teman melihat, beliau sering ke NTB, bukan hanya bangun relasi yang baik dengan gubernurnya. Tapi belum ada dalam sejarah modern kita ini, ada presiden yang menginap di Pulau Sumbawa," kata Zulkieflimansyah kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/9/2018).
Meski memuji Jokowi, Zulkieflimansyah--yang juga politikus PKS--tak bicara lugas soal dukungannya di Pilpres 2019. Dia hanya menegaskan mendukung keputusan organisasi Nahdlatul Wathan.
Saat berbicara soal keputusannya yang tunduk ke Nahdlatul Wathan, Wagub NTB Sitti Rohmi—yang juga merupakan kakak kandung TGB—yang berdiri di samping Zulkieflimansyah, nyeletuk menyebut mendukung Jokowi dua periode.
"Mendukung Jokowi dua periode," sebutnya.
Kenapa mereka ini bisa begitu yakinnya pada pendirian sendiri, meskipun tidak mengindahkan perintah partai? Jawabannya satu, karena sudah merasakan sendiri bagaimana kinerja Jokowi. Tidak mungkin mereka menggadaikan “bukti” tersebut, dengan janji-janji kampanye belaka, yang tidak jelas apakah bisa dilakukan atau tidak.
Kata-kata bisa mempengaruhi orang, tetapi hanya perbuatan yang bisa membuat orang yakin dengan keputusannya. Ya, partai memang berjasa kepada mereka, tetapi memilih Jokowi adalah demi tujuan yang lebih tinggi daripada semuanya, karena berpihak kepada rakyat.
Sebagai pemimpin, mereka wajib berpihak kepada rakyat.



0 comments:
Post a Comment