Berita Seputar NKRI - Masih ada waktu 6 bulan lagi untuk masyarakat Indonesia menilai siapa sosok capres yang paling tepat untuk dipilih. Saat ini para capres tersebut sedang menunjukkan siapa dirinya dan kira-kira bagaimana kondisi Indonesia ke depan jika dipimpin oleh mereka.
Pada Pilpres 2019 mendatang terdapat dua pasangan capres cawapres yakni Jokowi-Ma’ruf (Jo-Ruf) dan Prabowo–Sandiaga (Bo-San). Sebelumnya, di Pilpres 2014 kontestasi juga diikuti oleh Prabowo dan Jokowi. Hanya saja, dulu cawapresnya beda. Saat itu Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dan Prabowo berpasangan dengan Hatta Radjasa (Pra-Hara).
Melihat strategi yang digunakan oleh Jokowi dan Prabowo dalam menggaet pemilih, terlihat sangat jelas perbedaannya. Jokowi lebih suka turun ke lapangan langsung bertemu dengan rakyat dan bekerja dengan cepat.
Hampir tidak ada pembangunan infrastruktur yang mangkrak di era Jokowi. Beda dengan di erah pemerintahan SBY dulu yang banyak meninggalkan proyek infrastruktur tidak selesai. Karena sebagian dananya dikorupsikan oleh kader partai Demokrat.
Bagi Jokowi, perencanaan harus selesai sesuai dengan target. Jika tidak mencapai target, maka siap-siap menteri yang bersangkutan direshuffle. Beda dengan SBY yang walaupun menterinya tidak berprestasi tidak apa, yang penting posisinya aman.
Jokowi lebih suka bekerja dari pada banyak bicara yang tidak jelas. Bagi Jokowi bekerja akan membuahkan hasil, sedangkan banyak bicara akan menghasilkan gaduh saja.
Selain itu, Jokowi juga sangat percaya bahwa syarat untuk Indonesia menjadi negara maju, masyarakatnya mau bekerja keras. Kalau banyaklah cakap dari pada bekerja itu artinya pemalas. Dan tentu tidak akan berdampak positif bagi kemajuan suatu bangsa.
Strategi yang digunakan oleh Jokowi ini pun sangat sukses. Keberhasilan datang silih berganti. Mulai dari pembubaran Petral yang bisa menghemat anggaran sebesar Rp. 250 miliar per hari, jalan tol baru terus dibangun, kasus Lapindo terselesaikan yang selama 8 tahun gagal diselesaikan oleh SBY, jalan trans Papua dibangun, kapal asing pencuri ikan ditenggelamkan, saham Freeport 51 persen berhasil dikuasai, dan yang terakhir berhasil menyelenggarakan perhelatan olahraga terbesar ke-2 di dunia, Asian Games 2018.
Keberhasilan ini yang membuat Jokowi semakin dicintai oleh rakyatnya. Sudah sederhana, tidak berjarak dengan rakyat, bersih dari korupsi dan pekerja keras pula untuk membangun bangsa. Siapa coba yang bisa menolak?
Beda banget dengan capres lain, yang hanya omongannya saja besar. Tapi gaji karyawan perusahaannya berbulan-bulan tidak dibayarkan. Sampai-sampai karyawannya harus demo di depan gedung DPR segala, menuntut gaji dan pesangon yang belum dibayarkan.
Jika Jokowi menggunakan strategi unggul dan terpuji dalam menggaet pemilih. Lalu bagaimana dengan Prabowo?
Prabowo menggunakan strategi pidato berapi-api, menakut-nakuti masyarakat dan menyebarkan hoax.
Lihat saja kalau Prabowo pidato, beda tipis dengan Rizieq yang kini jadi Bang Toyib, yakni terkesan memprovokasi dan menyulut kemarahan masyarakat. Tapi apa solusi yang ditawarkan? Hampir-hampir tidak ada. Prabowo hanya bisa mengkritik tanpa memberikan solusi. Beda banget dengan Pegadaian yang menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Kemudian, Prabowo pernah mencoba menakut-nakuti masyarakat dengan menyebut 2030 Indonesia akan bubar. Mungkin maksudnya, jika Prabowo yang terpilih jadi presiden maka bubar tersebut akan batal. Hehehe.
Tapi strategi Jadul yang digunakan oleh Prabowo ini justru blunder. Prabowo ketahuan mengutip karya fiksi sebagai bahan pidatonya. Jadilah dia diolok-olok oleh netizen, capres kok mengutip karya fiksi untuk menakut-nakuti masyarakat.
Setelah gagal dengan beberapa strateginya, Prabowo menjalankan strategi baru yang cukup nekat, yakni menyebarkan hoax.
Untuk meyakinkan masyarakat, Prabowo menggelar konferensi pers tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet, sahabatnya.
Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut tindakan kekerasan terhadap Ratna adalah pelanggaran HAM. Mungkin maksudnya, dokter yang mengoperasi plastik Ratna yang melanggar HAM. Atau justru Prabowo sendiri yang pelanggar HAM. Hehehe
Di sisi lain, kubu Prabowo meremehkan polisi. Dengan sombongnya mereka mengatakan polisi tidak akan mampu mengungkap kasus Ratna, karena mereka beranggapan penganiayaan terhadap Ratna dilakukan oleh pendukung Jokowi.
Namun, polisi tidak sebodoh yang mereka bayangkan. Justru pendukung Prabowo yang kelihatan bodoh, karena polisi begitu cepatnya berhasil mengungkap kasus kebohongan Ratna.
Ratna tidak benar-benar dipukuli, melainkan dioperasi plastik. Diduga menggunakan anggaran untuk bantuan korban kapal tenggelam di Danau Toba pula. Alamak jang!
Terbongkarnya aib Ratna ini menunjukkan siapa mereka sebenarnya, yakni menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.
Ratna hanya kaki tangan dari konspirasi besar Prabowo dan komplotannya dalam berkampanye yang bermodalkan kebohongan dan kepalsuan.
Lihatlah sekarang, mereka yang awalnya sok perhatian kepada Ratna, satu-persatu cuci tangan pasca Ratna ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.
Ratna yang sudah berjuang mati-matian untuk Prabowo, bahkan harus rela kehilangan harga diri, kemudian ditinggalkan begitu saja oleh Prabowo dan pendukungnya. Tentu Ratna tidak mau jadi korban sendiri.
Ratna akan buka mulut dan mengungkapkan siapa saja pihak yang terlibat dalam kebohongan operasi plastiknya. Siapa setan yang diungkapkannya telah membisikkan kepadanya agar melakukan perbuatan tercelah tersebut.
Sepertinya sinetron akan semakin seru nih. Yang mana sinetron tersebut berjudul “Prabowo #CapresHoax, Ratna #RatuHoax dan Komplotannya Penuh dengan Kepalsuan.

0 comments:
Post a Comment