✨✌ Berita Seputar NKRI Mengulas Semua Berita Dengan Lugas, Akurat dan Terupdate��✨

Prabowo dan “TTM (Teman Tapi Musuh)” nya Bersaing untuk PilPres


BeritaSeputarNKRI - Pak Prabowo sedang berusaha kembali untuk kesekian kalinya mewujudkan cita-citanya menjadi presiden. Sungguh usaha yang panjang dan melelahkan. Dan sama dengan sebelum-sebelumnya, kemungkinan untuk gagal sangat besar.

Penyebab kekalahan terbesar justru akan datang dari pihak-pihak Pak Prabowo sendiri. Inilah disebut sebagai Teman Tapi Musuh (TTM). Berposisi sebagai teman, tapi sering merugikan seperti layaknya musuh. Pihak-pihak ini sering mengeluarkan pernyataan dan tindakan yang menggerus elektabilitas Pak Prabowo. Termasuk tindakan Pak Prabowo sendiri. Ada pula pihak yang memiliki kepentingan tersembunyi sendiri.


Yang pertama adalah, tindakan politisi dan para pendukungnya. Seringkali politisi dan para pendukungnya bertindak atau mengeluarkan pernyataan yang aneh bin aneh sekali. Pernyataan atau tindakan itu sering berpotensi me-nyungsepkan Pak Prabowo ke dalam kekalahan berseri selama keikutsertaannya dalam kontestasi pemilihan presiden.

Di mulai dari Sandiaga Uno. Beliau mengeluarkan pernyataan mengenai tempe setebal kartu ATM, tentang cekcok rumah tangga karena uang belanja, dan larangan kepala daerah untuk mendukung salah satu calon.presiden. Pernyataan-pernyataannya justru menjadi bumerang, membuat pihak Pak Prabowo jadi sasaran serangan dari publik. Karena pernyataan tersebut sangat jauh dari kenyataan.

Berikutnya adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang ingin menginisiasi satu paguyuban untuk menampung orang-orang yang disebutnya jadi “korban” pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Yang dikriminalisasi karena (aksi) 411, 212, masih banyak sekarang. Karena itu, saya mengusulkan dibentuklah Paguyuban Korban Kriminalisasi dan Persekusi Rezim Jokowi, disingkat PKKPRJ," kata Fadli Zon di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/9/2018).

PKKPRJ (???) berfungsi menjadi catatan bagi pemerintahan Jokowi yang telah menuju satu sistem otoritarianisme dan untuk mencatat semua pelanggaran-pelanggaran hukum.

Mantab Pak Zon. Bisa diharapkan nantinya akan ada acara reuni PKKPRJ. Untuk melengkapi acara reuni PA 212.

Pendukung yang mungkin akan merugikan adalah para ulama yang mengadakan Ijtimak. Ijma pertama adalah mendukung Pak Prabowo sebagai calon presiden dan merekomendasikan Habib Salim Segaf Al Jufri atau Ustadz Abdul Somad sebagai pendampingnya. Keduanya dikenal sebagai ulama.

Tapi ternyata koalisi Pak Prabowo lebih memilih Pak Sandiaga Uno. Tentu para ulama tersebut harus mengadakan Ijtima II untuk meng-amandemen Ijma yang tidak terpakai tadi. Hasilnya tetap mendukung Pak Prabowo dan pasangannya.

Ini tentu akan mengurangi kepercayaan kepada pihak Pak Prabowo, terutama dari kalangan pengikut ulama yang ber-Ijtimak. Karena ternyata para ulama tadi plin-plan, tidak tetap pada pendirian.

Dari partai politik, pihak pendukung Pak Prabowo yang berpotensi merugikan Pak Prabowo adalah Partai Demokrat. Dalam beberapa kesempatan, Demokrat menunjukkan gelagat setengah hati dalam mendukung Pak Prabowo. Beberapa elit kader pun terang-terangan menunjukkan dukungan kepada Presiden Jokowi.

Yang terbaru adalah Partai Demokrat yang akan memperingati hari ulang tahun ke-17 pada Senin (17/9/2018), tapi tanpa mengundang calon presiden yang diusungnya, Prabowo Subianto, ataupun rekan koalisi lainnya.


Partai lain yang terlihat setengah hati mendukung Pak Prabowo tentu saja Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Walaupun berhasil mencetuskan gerakan #2019gantipresiden, PKS terlihat seperti menyimpan tujuan tersembunyi. Terlihat dari spanduk #2019gantipresiden yang sering diikuti tulisan “Ganti Sistem”. Juga tersebar video tokoh PKS dan tokoh eks HTI yang berkampanye bersama.

Bagi pendukung Pak Prabowo selain simpatisan PKS tentu menimbulkan kecurigaan dan ketidaksimpatikkan. Mereka akan menganggap PKS dan simpatisannya hanya “menunggangi” koalisi pendukung Pak Prabowo dan akan merugikan pada saat yang tepat nanti.

Pihak yang akan merugikan pihak Pak Prabowo adalah Pak Prabowo sendiri. Seringkali pernyataan beliau menjadi blunder. Pernyataan Indonesia bubar pada tahun 2030 jadi bukti. Terbaru adalah cerita beliau mengenai keterlibatan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, dalam usaha menjegal Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Bagi kalangan swing voter tentu menjadi peetimbangan seriius. Ketakutan terjadinya kembali politik menakutkan seperti saat Pilkada DKI Jakarta menguat. Tentu akan merugikan bagi Pak Prabowo untuk menambah perolehan suaranya.

Sungguh aneh tapi nyata. Semakin mendekati waktu pemilihan oposisi malah semakin menunjukkan ketidakkompakkannya. Tentu hal yang sangat tidak menguntungkan bagi Pak Prabowo.

Tapi sangat menguntungkan bagi Pak Jokowi. Tapi tetap harus waspada dan bekerja keras.
Share on Google Plus

About beritaseputarnkri

You Never Know How Strong You Are Until Being Strong Is The Only Choice You Have "ONLY GOD CAN JUDGE ME".
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment